Menyombongkan Ibadah & Menilai Orang yang Tidak Shalat
Kajian Laduni Al-Kautsar
Menyombongkan Ibadah & Menilai Orang yang Tidak Shalat
1. Ibadah yang Disombongkan: Cahaya yang Padam
Ibadah sejatinya adalah penghambaan, bukan pertunjukan.
Ketika shalat, puasa, dzikir, atau amal lainnya dijadikan alat untuk merasa lebih suci, maka saat itu ruh ibadah telah pergi, yang tersisa hanya gerak jasad.
Banyak orang shalat, tapi yang disembah bukan Allah —
melainkan rasa bangga atas shalatnya sendiri.
Allah tidak melihat banyaknya amal,
tetapi siapa yang hadir di dalam amal itu.
Jika dalam ibadah masih ada:
- ingin dipuji
- merasa lebih tinggi dari orang lain
- senang merendahkan
maka aku (nafsu) masih duduk di sajadah.
2. Penyakit Orang yang Rajin Ibadah: Merasa Aman
Orang yang bermaksiat sering takut kepada Allah,
namun orang yang rajin ibadah kadang merasa aman dari murka Allah.
Padahal:
Iblis binasa bukan karena zina atau mabuk,
tapi karena sombong.
Ibadah yang melahirkan kesombongan
lebih berbahaya daripada maksiat yang melahirkan penyesalan.
3. Menilai Orang yang Tidak Shalat: Hak Siapa?
Shalat memang tiang agama,
meninggalkannya adalah dosa besar — itu syariat.
Namun menghakimi hati dan iman manusia
bukan wilayah makhluk.
Bisa jadi:
- dia tidak shalat, tapi hatinya hancur dan berharap ampunan
- kita shalat, tapi hati penuh ujub dan merasa paling benar
Jangan-jangan shalatnya dia tertunda,
tapi rahmat Allah tidak tertunda untuknya.
4. Shalat Tanpa Tawadhu: Sia-sia Secara Hakikat
Dalam ilmu laduni, shalat dibagi:
- Shalat jasad: gerakan
- Shalat hati: khusyuk
- Shalat ruh: fana’ di hadapan Allah
Jika shalat melahirkan:
- kasar
- merasa suci
- mudah menuduh
maka shalat itu belum sampai ke hati, apalagi ke ruh.
Shalat sejati membuat seseorang
semakin rendah di hadapan Allah,
dan semakin lembut kepada manusia.
5. Adab Orang yang Diberi Cahaya Ibadah
Orang yang benar shalatnya:
- tidak sibuk menilai shalat orang lain
- sibuk memperbaiki niatnya sendiri
- takut amalnya tidak diterima
- menangis bukan karena orang lain buruk,
tapi karena dirinya belum tentu selamat
Ia melihat orang yang belum shalat bukan dengan hinaan,
melainkan dengan doa dan kasih.
Penutup Hikmah Laduni
Jangan bangga karena engkau shalat,
takutlah jika shalatmu tidak sampai kepada-Nya.Jangan hina orang yang belum shalat,
bisa jadi Allah sedang menuntunnya dengan cara yang tidak engkau pahami.
Semoga Allah:
- membersihkan ibadah kita dari riya’
- melembutkan hati kita dari merasa paling benar
- dan menjadikan shalat sebagai jalan mendekat, bukan alat menghakimi